• Status Order
  • Tlp: 0812 1626 6092
  • SMS/WA: 0813 2657 4744
  • BBM : 2BB8DFEB
  • kiss_jogja@yahoo.com
Terpopuler:

Pewarna Batik Sintetis

11 November 2016 - Kategori Blog

Pewarna Batik Sintetis

Pewarna Batik Sintetis – Sebelumnya kita sudah membahas tentang bahan pewarna batik namun yang alami, dan sekarang saatnya kita membahas zat pewarna sintetis.
Zat pewarna sintetis atau biasa juga disebut bahan pewarna buatan juga digunakan dalam pewarnaan kain batik, bahkan bisa dibilang sebagian besar pengrajin batik saat ini menggunakan bahan pewarna sintetis.

Penggunaannya yang praktis dan mudah didapat di toko-toko bahan batik merupakan salah satu alasan banyak pengrajin batik sekarang memilih pewarna sintetis. Lagipula varian warna yang lebih beraneka ragam dibanding pewarna alami membuat para pengrajin batik lebih bisa mengeksplorasi warna dalam membatik.

Memang tidak bisa dipungkiri dengan adanya zat pewarna sintetis kain batik membuat pewarna alami kain batik menjadi tergeser keberadaannya, namun hingga kini pewarna alami masih tetap digunakan para pembatik tertentu dikarenakan batik alami biasanya memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi di banding kain batik yang menggunakan pewarna sintetis.

Zat pewarna sintetis merupakan zat pewarna yang dibuat dengan bahan-bahan kimia tertentu sehingga dapat digunakan untuk mewarnai kain atau tekstil. Memang ada banyak sekali zat pewarna sintetis yang dapat digunakan untuk mewarnai bahan tekstil, namun tidak semua pewarna sintetis dapat digunakan untuk membatik karena saat proses pewarnaan batik tidak boleh menggunakan proses pemanasan, jika pewarnaan dilakukan dengan pemanasan maka bisa dipastikan lilin/malam batik akan meleleh.

Macam-macam Pewarna Batik Sintetis

Macam-macam Pewarna Batik Sintetis

1. Pewarna Napthol, zat pewarna sintetis ini digunakan dalam proses pewarnaan dengan teknik celup, terdiri dari dua bagian yang memiliki fungsi berbeda yakni napthol dasar dan pembangkit warna. Napthol dasar biasanya digunakan pertama kali dalam proses pewarnaan, pada pencelupan pertama ini warna belum terlihat dalam kain, untuk membangkitkan warna dalam kain dibutuhkan larutan garam diazonium sehingga akan memunculkan warna sesuai yang diinginkan. Secara teknis napthol tidak bisa larut dalam air, untuk melarutkannya biasanya para pengrajin menggunakan zat lain seperti kostik soda.

2. Pewarna Indigosol, zat warna Indigosol biasa digunakan untuk menghasilkan warna-warna yang lembut pada kain batik, dapat dipakai dengan teknik celup maupun colet (kuas). Proses penggunaan zat warna Indigosol juga hampir sama dengan penggunaan Napthol, pencelupan dibutuhkan dua kali proses. Proses pertama sebagai pencelupan dasar dan yang kedua untuk membangkitkan warna. Warna akan dapat muncul sesuai yang diharapkan setelah dilakukan oksidasi, yakni memasukkan kain yang telah diberi Indigosol ke dalam larutan asam sulfat atau asam florida (HCl atau H2SO4) ataupun Natrium Nitrit (NaNO2).

3. Pewarna Rapid, merupakan salah satu zat pewarna yang biasa dipakai untuk membatik dengan teknik colet. Terdiri dari campuran napthol dan garam  diazonium yang distabilkan. Untuk membangkitkan warna biasanya digunakan asam sulfat atau asam cuka.

Pewarna batik sintetis lainnya yang berfungsi sebagai zat pembantu dalam proses pewarnaan batik diantaranya caustic soda, soda abu, TRO (Turkish Red Oil), teepol, asam sulfat, asam chloride, kapur, tawas, obat ijo/air ijo dan minyak kacang.

Menurut penulis menggunakan pewarna sintetis tidak bisa dibilang merusak atau merubah ketradisional-an budaya atau seni pembuatan batik, karena proses dalam pembuatan batik yang tradisional masih menggunakan canting dan malam khususnya batik tulis, walaupun memang sedikit merubah namun batik tidak hanya dinilai dari pewarna buatan bukan?

sumber gambar:
http://travel.nationalgeographic.com/travel/traveler-magazine/photo-contest/2013/entries/209796/view/

, , , , , , , , , , ,